Pada tahun 1832, sweet corn telah banyak di tanam di Amerika dan sampai tahun 1866 telah ada 16 varietas.
Di Indonesia, sweet corn mula-mula di kenal dalam kemasan kaleng dari hasil impor. Sekitar tahun 1980-an barulah tanaman ini ditanam secara komersial meskipun masi dalam skala kecil. Setelah berkembangnya toko-toko swalayan yang banyak menampung hasilnya, sweet corn diusahakan secara meluas.
Sweet corn termasuk keluarga Graminae dari suku Maydeae yang para mulanya berkembang dari jagung tipe dent dan flint. Jagung tipe dent disebut juga dengan jagung gigi kuda (Zea mays identata). Jagung ini mempunyai lekukan di puncak bikinya karena adanya pati keras pada bagian pinggir dan pati lembel pada bagian puncak biji.
Jagung tipe flint disebut juga jagung mutiara (Zea mays indurata). Biji jagung ini berbentuk agak bulat, bagian luarnya keras dan licin. Bagian luar yang keras ini disebabkan oleh bagian luar endosperm yang terdiri dari pati keras. Dari kedua tipe jaging inilah jagung manis berkembang kemudian terjadi mutasi menjadi tipe gula yang resesif.
Tinggi tanaman sweet corn tidak banyak berbeda dengan jagung biasa. Namun, menurut Leonard dan Martin (1963), sweet corn sedikit lebih pendek. Sweet corn termasuk tanaman berumah satu dengan bunga jantan berwarna putih krem. Tanaman ini memiliku jenis bunga yang bersifat. Bunga jantan mengandung banyak bunga kecil pada ujung batangnya yang disebut tassel. Tiap bunga kecil tersebut terdapat tiga buah benang sari dan pistil rudimenter. Bunga betina juga mengandung banyak bunga kecil yang ujungnya pendek dan datar; pada saat masak disebut tongkol. Setiap bunga betina mempunyai satu putik dan stamen rudimenter dengan sistem perkawinan umumnya menyerbuk silang. Sweet corn mempunyai tipe pertumbuhan dereminete.
Menurut Koswara (1986), sifat manis pada sweet corn disebabkan oleh adanya gen su-1 (sugary), bt-2 (brittle) ataupun sh-2 (shrunken). Gen ini dapat mencegah pengubahan gula menjadi zat pati pada endosperm sehingga jumlah gula yang ada kira-kira dua kali lebih banyak dibandingkan dengan jagung biasa. Secara fisik maupun morfologi, sweet corn sulit di bedakan dengan jagung biasa. Perbedaan antara kedua jagung itu umumnya pada warna bungan jantan. Bunga jantan sweet corn berwarna putih, sedangkan pada jagung biasa kuning kecoklatan. Rambut para sweet corn berwarna putih, sedangkan pada jagung biasa berwarna merah. Sweet corn mengandung lebih banyak gula dan endospermnya daripada jagung biasa dan pada proses pematangan kadar gula yang tinggi menyebabkan biji keriput. Keadaan keriput inilah yang membedakan dengan biji jagung biasa.
Perbedaan lainnya adalah sweet corn berumur lebih genjah dan memiliki tongkol lebih kecil dibandingkan jagung biasa. Tongkolnya memiliki 2 atau 3 pasang daun yang tumbuh di sisi kiri dan kanan. Sebenarnya, daun ini merupakan perpanjangan klobot (kulit buah). Tongkol umumnya sudah siap dipanen ketika tanaman berumur antara 60 - 70 hari.
Saat ini telah banyak beredar jenis-jenis sweet corn yang berkualitas tinggi. Beberapa jenis yang di kenal di Indonesia antara lain Hawaian super sweet, Honey bantam series, Honey pearl, Honey jean II, Dendy and White Knight.
Sweet corn mempunyai nilai gizi yang berbeda dengan jagung biasa.
Karbohidrat dalam biji jagung mengandung gula pereduksi (glukosa dan fruktosa), sukrosa, polisakarida dan pati. Menurut Koswara (1986), kadar gula pada endosperm sweet corn sebesar 5 - 6% dan kadar pati 10 - 11%. Sedangkan pada jagung biasa hanya 2 - 3% atau setengah dari kadar gula sweet corn. Menurut Kamil (1982), gula yang disimpan dalam biji sweet corn adalah sukrisa yang dapat mencapai jumlah 11%.
Sweet Corn - Baby Corn oleh Tim Penulis PS.
Sabtu, 23 Mei 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar